Herman Deru : Pentingnya Paradigma Baru Membangun Prestasi Olah Raga Sumsel

Herman Deru : Pentingnya Paradigma Baru Membangun Prestasi Olah Raga Sumsel

MONITOR, Palembang – Bakal calon gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, tertegun saat dimintai komentarnya mengenai diskrepansi antara fasilitas olah raga di Jakabaring dengan prestasi olah raga Sumsel.

Ia makin tercengang saat diperlihatkan viral yang menggambarkan prestasi olah raga Sumsel dari tahun ke tahun, bahkan pada pekan olah raga nasional (PON) 2016 lalu Sumsel bertengger di posisi ke-21 dari 33 provinsi, suatu hal yang banyak disesalkam rakyatnya karena malu punya fasilitas olah raga bertaraf internasional tetapi prestasinya seperti itu.

Herman Deru menyatakan dapat memahami kegundahan publik Sumsel atas realitas tersebut. Namun ia mengingatkan, tidak mudah dan tidak serta merta apablila membangun fasilitas bertaraf internasional lalu prestasi olah raga jadi bertaraf internasional.

Menurut Herman Deru, harus ada upaya keras dan pembinaan olah raga yang sistematis, didukung pendanaan dan pengawasan yang efektif serta diiringi paradigma yang baru yakni pentingnya keseimbangan fasilitas dengan prestasi.

“Contohnya begini, satu fasilitas dibangun saat yang sama pembinaan ditingkatkan, dengan sendirinya pelatda atau apapun kegiatan peningkatan prestasi atlit harus di-backup penuh. Jangan membangun saja lalu selesai, itu pendekatan proyek namanya,” ujarnya kepada MONITOR, Selasa (26/12).

Herman Deru mengapresiasi dan meminta semua pihak fair mengakui dibangunnya fasilitas olah raga bertaraf internasional itu sebagai hal yang positif. Artinya bagi pemimpin baru mendatang, PR-nya tinggal di pembinaan. Bagaimana agar adanya fasilitas yang bagus itu bisa membangkitkan prestasi olah raga Sumsel.

Pembinaan olah raga, menurut Herman Deru, harus serius dan harus melibatkan stakeholders olah raga, pendidikan dan pemerintah daerah secara berjenjang.

Keterlibatan Bupati, walikota, camat, kepala desa atau lurah dan semua perangkat pembina wilayah, lanjut Herman Deru, harus seirama dalam membangun prestasi olah raga di wilayahnya. Fasilitas olah raga publik juga harus ada dan dipelihara dengan baik.

“Dulu setiap desa harus punya lapangan sepak bola, itu bagus. Bahkan ada tradisi lari pagi untuk warga. Sampai kita kenal ada lagu “Lari Pagi” itu kan,” ungkanya.

Deru menambahkan, pembinaan olah raga harus melibatkan tim pemandu bakat. Di sekolah tingkat dasar, anak-anak yang punya bakat dan prestasi olah raga yang baik harus dibina, koordinasi antar perangkat daerah harus baik.

Lebih lanjut menurut Deru, membangun kesadaran bahwa prestasi olah raga adalah kepentingan bersama yang dampaknya akan memberi kontribusi pada kesehatan masyarakat pada umumnya. Istilah memasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat masih relavan hingga kini.

“PR ke depan adalah membangun paradigma baru yakni setiap cabang olah raga dibina dengan baik dan fasilitasnya disediakan dengan baik. Jangan fasilitasnya disediakan, pembinaannya tidak diperhatikan,” kata Deru mempertegas.

“Ke depan jangan lagi peringkat PON nomor urut 21 dari 33, paling tidak 10 besar, 5 besar, syukur kalau bisa 3 besar,” imbuhnya.

Sumber: Monitor.co.id